Cuplikan Chapter ini
Angin dingin berembus kencang melintasi leher sempit Lembah Sunyi membawa aroma tanah basah yang berbaur dengan uap belerang Di celah berbatu yang menjadi satu-satunya jalan masuk menuju benteng pertahanan terakhir sepuluh anggota kelompok berdiri mengelilingi sebuah peta kasar yang terukir di atas batu datar Pendar abu-abu dari langit malam membingkai wajah-wajah tegang yang dipenuhi bekas lukaMusuh tidak akan menyerang dari samping ujar Fathan jemarinya menunjuk ceruk sempit di antar