Cuplikan Chapter ini
Malam di sekitar kedai seolah kehilangan kehangatannya berganti dengan udara dingin yang menusuk tulang dan membawa serta bau anyir darah yang terbawa angin dari perbatasan desa Di halaman belakang kedai yang biasanya sunyi dan hanya diisi oleh suara jangkrik kini berubah drastis menjadi kamp darurat yang penuh sesak Tenda-tenda darurat yang terbuat dari kain terpal usang dan kain seadanya didirikan dengan tergesa-gesa demi menampung puluhan warga sipil Mereka adalah para pengungsi malan