Cuplikan Chapter ini
Asap kemenyan murah beradu dengan bau tuak murahan yang menyengat hidung Kedai Tuak Remang-Remang di ujung Pasar Naga itu seperti perut naga yang pengap bising sesak dan dipenuhi gelak tawa kasar para pendekar kelana Di sudut paling gelap Banyu Cakra duduk menyendiri Jubah kelabunya terkibas pelan setiap kali angin malam menyelusup dari celah dinding bambu Tangannya memegang cawan tanah liat tetapi matanya yang tajam bak sembilu mengamati setiap sudut ruanganBawa tuak terbaikmu Tua