Cuplikan Chapter ini
Deru angin malam menggulung debu tanah perbatasan bagai barisan hantu yang kelaparan bergesekan dengan bilah-bilah baja yang bergetar di dalam sarungnya Di balik parit pertahanan terdepan kegelapan malam bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya melainkan sebuah selimut hidup yang menyembunyikan ribuan pasang mata penuh kebencian Bau anyir darah kering dan mesiu basah mengambang pekat di udara menandakan bahwa pertempuran besar antara hidup dan mati tinggal menghitung detikFathan berdiri teg