Cuplikan Chapter ini
Cahaya fajar merayap malas melalui celah-celah jendela kayu berjeruji menyoroti debu yang menari-nari di udara kamar loteng yang sempit Aroma kayu tua bercampur bau jerami basah mendominasi indra penciuman Arka saat ia perlahan membuka matanya Rasa sakit yang semalam menghujam dada kirinya kini mereda menyisakan denyut tumpul yang mengingatkannya pada pertempuran sengit di hutan kabut Ia menghela napas panjang mencoba mengumpulkan kesadaran di tempat asing yang sunyi iniKau sudah bangu