Cuplikan Chapter ini
Desir angin pagi di Kedai Bambu Biru membawa kabar yang mengubah ketenangan para pendekar yang sedang menikmati secangkir teh hangat Kedai yang terletak di perbatasan Kota Praja itu mendadak riuh oleh suara perdebatan sengit dari berbagai penjuru meja Para pengelana pedagang keliling hingga pendekar aliran lurus tampak berkerumun mendengarkan cerita seorang pengelana tua yang baru saja tiba dari wilayah baratKalian tidak akan percaya apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri di Hutan