Cuplikan Chapter ini
Matahari sore menyinari celah-celah jendela kamar kerja Aris dengan bias keemasan yang tenang Udara di dalam ruangan itu terasa begitu damai ditemani aroma khas kayu jati yang baru diserut dan harum teh melati hangat di atas meja kerjanya Aris duduk di kursi kayu berlapis kulit imitasi yang dibuatnya sendiri menatap jemarinya yang kini tampak lebih kokoh dan penuh guratan kerja keras Di usia yang telah matang ini ia menyadari bahwa setiap goresan luka di masa lalu bukanlah kutukan mela