Cuplikan Chapter ini
Mentari pagi menyingsing perlahan di ufuk timur dusun mengalirkan bias cahaya keemasan yang menembus sela-sela dedaunan pohon kelapa dan kabut tipis yang masih memeluk lembah perbukitan Hari yang dinanti-nantikan dengan segala debar ketakutan dan harapan itu akhirnya tiba juga Di dalam kamar tidurnya yang sederhana Nurhayati duduk terpaku di depan sebuah cermin kayu usang berbingkai ukiran bunga Mengenakan kebaya putih panjang berenda halus warisan mendiang ibunya wajahnya tampak dipole