Cuplikan Chapter ini
Rintik gerimis sore itu jatuh lembut menyapu pelataran rumah panggung kayu yang basah dan memantulkan pendar jingga dari langit barat yang tertutup mega mendung Udara berembus dingin membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi melati yang telah disiapkan untuk upacara sakral esok hari Di bawah naungan emperan depan Aris berdiri mematung dengan tatapan kosong menerobos tirai air tipis yang turun tanpa suara Hari-hari penantian yang melelahkan pertarungan batin yang panjang dan seluru