Cuplikan Chapter ini
Matahari pagi di Kampung Cempaka belum sepenuhnya terangkat ketika sinarnya yang keemasan menembus tirai jendela bambu rumah Pakde Hasan menyinari ruangan tengah tempat sisa-sisa bara arang di tungku dapur masih mengepulkan asap tipis beraroma kayu manis Di sudut ruangan Raden Bagaswara duduk termenung di atas kursi rotan usang memandangi cangkir tanah liat berisi kopi hitam yang uapnya perlahan lenyap ditelan udara pagi yang sejuk Di seberangnya Pakde Hasan duduk dengan punggung sediki