Cuplikan Chapter ini
Matahari senja di dusun terpencil itu perlahan-lahan merosot turun menyapukan bias jingga tua yang membara ke atas barisan atap rumah panggung dan jalan setapak berpasir yang mulai lengang Angin lembah berembus kencang membawa aroma tanah basah dan jerami kering yang bergesekan pelan di pekarangan belakang rumah Pak Hasan Di beranda kayu yang menghadap langsung ke arah hamparan sawah bertingkat Nurhayati berdiri terpaku sambil melipat kedua tangannya di dada Selendang rajut berwarna bir