Cuplikan Chapter ini
Gerimis tipis masih saja menari di atas atap seng rumah panggung membawa hawa dingin yang merangsek masuk hingga menembus serabut-serabut kain baju Aris Di dalam ruangan yang hanya diterangi pelita kecil dengan nyala yang hampir padam waktu seolah berhenti berputar Udara terasa begitu berat dipenuhi sisa-sisa aroma melati malam yang mendadak berubah menjadi racun paling menyakitkan bagi rongga dada Aris duduk berselonjor di atas lantai papan kayu yang basah oleh cipratan air hujan kedu