Cuplikan Chapter ini
Matahari pagi di dusun kecil lereng bukit itu menyembul malu-malu di balik barisan awan tipis yang menggantung rendah menyapukan bias keemasan yang hangat ke atas atap-atap rumah kayu dan jalan setapak yang masih basah oleh embun semalam Di beranda rumah panggung yang menghadap langsung ke hamparan sawah bertingkat Nurhayati berdiri sambil merapikan selendang rajut berwarna merah muda yang melingkar di bahunya Udara dingin pegunungan yang menusuk tulang seolah tak berdaya menembus kehanga