Cuplikan Chapter ini
Senara berlari Napasnya memburu paru-parunya serasa terbakar Ia terus berlari menyusuri jalan setapak yang hampir gelap hanya diterangi oleh cahaya keemasan senja yang sesekali menembus pepohonan Kakinya tersandung akar dan batu tetapi ia tidak berhenti Ketakutan yang membakar di dadanya jauh lebih kuat dari rasa sakitKetika pondok Renji akhirnya terlihat ia melambatkan langkah dadanya dipenuhi kelegaan yang tak terlukiskan Cahaya api unggun yang hangat dari luar pondok memanggilny