Cuplikan Chapter ini
Matahari sore merayap turun perlahan di balik gugusan bukit kapur membiaskan cahaya jingga kemerahan yang menembus celah-celah jendela kaca markas teater tua dengan lembut Udara sore hari itu terasa begitu sunyi membawa serta keheningan yang panjang setelah berhari-hari disibukkan oleh persiapan logistik dan pengemasan berkas proposal hibah nasional Aryo duduk seorang diri di kursi kayunya yang sudah usang menatap lurus ke arah secangkir teh tawar yang sudah mulai dingin di atas meja ker