Cuplikan Chapter ini
Angin sore berhembus pelan melewati celah-celah genteng tanah liat di markas teater tua membawa serta aroma khas jerami kering dan sisa-sisa jelaga hitam yang telah lama mengering di dinding batu bata merah Di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan naskah usang dan lembaran draf koreografi Aryo menatap kalender dinding usang bulan lalu dengan senyuman tipis yang menyembunyikan sejuta rencana besar Hari Senin sore di pengujung bulan ini menyambut kawasan lereng bukit dengan bias cahaya