Cuplikan Chapter ini
Pukul 2215 WIB malam itu udara di kawasan Menteng Tenggulun terasa begitu pekat oleh sisa uap panas aspal kota yang baru saja diguyur hujan gerimis Di dalam kamar kosnya yang sempit berukuran dua setengah kali dua meter Aryo duduk bersila di atas kasur busa tipisnya Hanya sebola lampu kuning remang-remang yang menerangi ruangan tersebut memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak kurus ke dinding tripleks yang mulai mengelupasAryo baru saja pulang dari kantor penerbitan tempatnya bekerja