Cuplikan Chapter ini
Udara malam di kamar kos Aryo yang sempit terasa pengap dan menyesakkan dada hanya ditemani oleh cahaya kuning temaram dari lampu bohlam lima belas watt yang tergantung lemah dari langit-langit berdebu Dinding tripleks kamar itu dipenuhi oleh poster-poster pementasan teater lama yang mulai menguning di ujung-ujungnya serta lembaran sketsa naskah yang berhamburan di atas meja kayu reyot Di sudut ruangan sebuah gitar akustik tua bersandar tanpa senar pertama seolah ikut meratapi keheninga