Cuplikan Chapter ini
Jakarta tidak pernah tidur kota ini hanya berganti topeng Di balik gemerlap lampu pencakar langit dan deru kendaraan yang tak pernah surut di jalanan protokol tersimpan denyut nadi kehidupan yang kejam dan melelahkan Udara malam di ibu kota selalu terasa berat sarat dengan polusi debu jalanan dan aroma kopi murah dari warung-warung tenda pinggir jalan yang bersaing dengan asap knalpot Di sebuah kos sempit berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Menteng Tenggulun Aryo duduk termenun