Cuplikan Chapter ini
Pukul sepuluh lewat lima belas malam Udara di luar apartemen lantai dua belas itu mendingin membawa serta aroma sisa hujan yang baru saja mereda di emperan kota Cahaya lampu-lampu jalanan merembes melalui celah tirai abu-abu menciptakan garis-garis keemasan tipis yang jatuh di atas lantai parket kayu Di dalam ruangan yang senyap satu-satunya suara yang terdengar adalah detak jam dinding antik milik Argasebuah detakan monoton yang seolah menghitung mundur ketegangan yang telah menumpuk