Cuplikan Chapter ini
Pukul tiga lewat empat belas menit sore Udara di ruang tamu itu terasa padat dan pengap seolah dinding-dinding rumah telah lama berhenti bernapas sejak badai semalam mereda Sisa-sisa embun masih menempel di balik kaca jendela yang buram memantulkan cahaya matahari pucat yang berjuang menembus tebalnya awan kelabu Aruna duduk terpaku di atas kursi rotan usang kesayangannya Di hadapannya secangkir teh hitam yang diseduh sejak dua jam lalu kini telah dingin sepenuhnya membentuk lapisan t