Cuplikan Chapter ini
Pukul empat lewat empat puluh lima menit pagi Langit di luar jendela kamar tidur Aruna masih diselimuti warna kelabu pekat menyisakan sisa-sisa malam yang basah oleh embun tipis dan hembusan angin dingin dari celah-celah ventilasi rumah Di atas ranjang besar berseprai putih bersih yang kini tampak kusut Aruna terbangun dari tidurnya yang gelisah dengan napas memburu dan dada bergemuruh hebat Keringat dingin merembes di pelipisnya mendingin diterpa udara fajar yang menusuk kulit Ia tida