Cuplikan Chapter ini
Kereta eksekutif malam yang membawa Aris melaju membelah kegelapan malam meninggalkan gemerlap lampu kota Yogyakarta yang perlahan surut di balik kaca jendela Suara derit roda baja yang bergesekan dengan rel mengalun konstan menciptakan ritme monoton yang justru menenangkan badai di dalam dada Aris Di dalam kabin gerbong yang hangat dan temaram ia duduk sendiri di kursi nomor tujuh belas menatap pantulan wajahnya sendiri pada kaca jendela yang berembun akibat perbedaan suhu di luar dan