Cuplikan Chapter ini
Sore hari di ruang tamu rumah susun sederhana itu mendadak terasa begitu sunyi seolah dunia di luar jendela sengaja meredam segala bising kendaraannya demi memberi ruang bagi debar dua dada yang saling berkejaran Maya berdiri di dekat meja kayu jati memegang sehelai kain lap yang sudah tidak bergerak sejak semenit lalu Di hadapannya Arfan berdiri tegak dengan tatapan mata yang memancarkan ketulusan luar biasatatapan yang belum pernah dilihat Maya sebelumnya selama sekian bulan mereka hi