Cuplikan Chapter ini
Waktu merayap dengan kecepatan yang sama sekali berbeda dibandingkan minggu-minggu pertama kedatangan mereka di villa tua lereng bukit itu Dulu setiap detik terasa seperti jarum jam yang menancap lambat di kulit menyiksa batin dengan keheningan yang menyesakkan dada Namun kini hari-hari berlalu bagaikan hembusan angin pagi yang berarak cepat Cahaya matahari menembus celah jendela kamar utama dengan hangat menyinari lantai kayu jati yang kini tampak bersih dan terawatArfan duduk di tep