Cuplikan Chapter ini
Matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kamar utama memantulkan pendar emas ke atas lantai marmer putih yang bersih Shasmira duduk di tepi ranjang dengan jemari gemetar menggenggam erat ponsel pintarnya yang menyala terang Layar kecil itu menampilkan deretan pesan teks serta panggilan tak terjawab dari nomor ibunya di kampung halaman Udara di dalam kamar yang biasanya terasa hampa mendadak berubah menjadi sesak seolah oksigen di sekitarnya tersedot habis oleh kabar buruk yang