Cuplikan Chapter ini
Pagi di rumah sakit datang seperti tamu yang ragu-ragu Cahaya matahari tidak masuk dengan percaya diri ia menyelinap tipis melalui sela tirai pucat dan berhati-hati seolah takut mengganggu tubuh-tubuh yang masih bernegosiasi dengan rasa sakit Lorong-lorong tetap sunyi diisi dengung mesin dan langkah perawat yang bergerak pelanseperti doa yang ditahan agar tidak membangunkan mautArman membuka mata dengan napas tertahan di tenggorokan Langit-langit putih di atasnya terasa terlalu deka