Cuplikan Chapter ini
Maut tidak pernah mengetuk pintu dengan sopan apalagi di sebuah rumah mewah di Jalan Sentosa 1 yang pagar besinya menjulang tinggi menyerupai tombak-tombak penjaga kuburan Ia biasanya datang bersama rintik gerimis yang berbau anyir menyusup lewat celah-celah daun pintu gerbang belakang yang sengaja dibiarkan menganga oleh kelicikan manusiaPukul sembilan malam itu ketika lampu-lampu taman bergaya Eropa di kediaman Om Tahir meredup akibat sekring listrik yang sengaja dipadamkan dari pusat