Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Sekon Dewandaru dan Karta Raditya datang ke Jakarta ingin tahu rasanya mengunyah debu jalanan, mengenakan dasi murahan yang mencekik leher mereka seperti tali tiang gantungan.
Di menara menjulang Tahir Group, mereka bertemu Lintang, seorang perempuan HRD yang senyumnya mampu membuat dua berandalan kampung ini mendadak percaya pada rindu.
Kapan pun cinta selalu membuat lelaki menjadi tolol, dan ambisi jabatan membuat sepasang sahabat sejati sepenanggungan dari desa ini saling mengasah pisau di balik punggung masing-masing.
Mereka tidak tahu bahwa Viona, perempuan ular di balik tembok direksi, telah menyiapkan lubang kubur yang pas untuk kepolosan dua lelaki kampung yang menjijikkan.
Lalu malam jahanam itu datang, ketika sepasang suami-istri konglomerat mati, memindahkan noda merah ke kemeja putih dua bedebah yang salah tangkap.
Di dalam sel penjara yang pengap oleh bau kencing dan penyesalan, mereka akhirnya sadar bahwa hukum di kota ini lahir dari rahim pelacur tua, tak akan ada keadilan bagi si lemah seperti mereka.
Kini, dengan hati luka yang bernanah di dada, mereka harus memilih: mati membusuk sebagai kotoran kota, atau mengamuk membalaskan luka hati.
*** Sebuah novel yang terinspirasi dari balada salah tangkap dalam puisi "Mata Luka Sengkon Karta" Karya Peri Sandi Huizche. (Langit Berawan)