Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
KEMBANG BATAVIA
Suka
Favorit
Bagikan
24. #24 Bhairawa

FADE IN:

104. INT. PONDOK OBAT NIOTO (PETANG)

Cast: Nioto, Mlêthik

Nioto berkemas-kemas. Dia mengambil beberapa buku dari lemari dan sabuk besar yang aneh. Buku itu ia masukkan ke buntalan perbekalan sedangan sabuk aneh itu dia kenakan. Dia merangkapnya dengan jubah panjang. Mlêthik keheranan.

MLȆTHIK

Kita hendak ke mana, ‘ntia?

NIOTO

Ke Batavia, Melte.

MLȆTHIK

Kenapa, ‘ntia?

NIOTO

(Masuk ke kamar)

Ini tempat sudah tiada aman lagi. Kemasi lu punya balang-balang.

MLȆTHIK

Bagaimana dengan tanaman-tanaman obat kita, ‘ntia?

NIOTO

(Ke luar dari kamar, menggenggam tombak panjang)

Wa olang ada kebun di Batavia.

MLȆTHIK

Untuk apa tombak itu, ‘ntia?

NIOTO

(Berjongkok di hadapan Mlêtik)

Buat jaga wa olang punya diri.

Dahi Nioto mengenyit. Matanya melirik. Dia lalu menatap Mlêtik. Menaruh telunjuk di hidung. 

Perlahan-lahan, Nioto lalu bangkit, menggandeng Mlêtik menuju pintu belakang. Ketika itulah terdengar riuh di sekeliling rumah. 

SOUND EFFECT: BUNYI PEDANG BERADU, TERIAKAN KESAKITAN.

Nioto memeluk Mlêtik dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya bersiap dengan tombak panjang.

MLȆTHIK

(Mendekap buntalan keci)

Takut, ‘ntia.

Nioto mengeratkan pelukan. Suasana senyap. Tidak ada bunyi apa pun kecuali ringkik kuda Nioto di halaman samping. 

SOUND EFFECT: RINGKIK KUDA

Nioto keheranan. Dia lalu melangkah perlahan menuju pintu belakang. Nioto lalu mendorong pintu lebih lebar. Dia langsung membalikkan badan, menggendong Mlêtik dengan membenamkan wajah Mlêtik ke bahunya. 

NIOTO

Lu jangan buka mata, Melte ya, sampai ‘ntia ngomong lu bole buka.

CUT TO:

105. EXT. SAMPING RUMAH NIOTO (PETANG)

Cast: Nioto, Mlêthik, Topeng Wayang

Nioto menggendong Mlêthik ke samping rumah, naik ke atas kuda, kemudian buru-buru menghela tungganganya itu menjauhi Sungai Udang. Di sekeliing rumahnya, terutama di depan dan belakang, mayat-mayat bergelimpangan. Sepertinya ada sekelompok orang yang menyerang pondok itu lalu ada kelompok lain yang menghentikan mereka.

CAMERA MOVEMENT:

Di sisi rumah yang takterperhatikan oleh Nioto, seseorang memandanginya. Memastikan sang tabib dan anak perempuan kesayangannya itu melaju meninggalkan tempat itu. Sosok itu berpakaian serba hitam dan bertopeng wayang dari kayu.  

FADE OUT:

FADE IN:

106. EXT. INT HALAMAN GEDUNG ANAK YATIM (PETANG)

Cast: Byomå, Dirk, Hendriks, Moses, Jacoba, anak-anak paduan suara, Anak Panti

ESTABLISH: GEDUNG ANAK YATIM BATAVIA

Sore itu, anak-anak perempuan paduan suara menyanyi pujian Sertai Kami, Tuhan di ruang belajar. Semua anak-anak perempuan berbaju sama; kebaya berbunga-bunga dari kain India kasar yang dibeli dari pedagang Moor. Pinggir-pinggir kebaya itu diberi pinggiran warna hijau yang mencolok.

KOOR

Sertai kami, Tuhan.Di dalam Firman-Mu. Sehingga kabajikan. Dan selamat pun penuh.

CAMERA MOVEMENT: 

Di halaman panti, tempat anak-anak laki-laki, sedang bermain. Dua anak sedang bermain bulu tangkis. Bola berbulunya sudah usang. Kayu penepuk pun sudah tidak terlalu berguna. Anak lain, yang umurnya lebih muda, memberi makan ayam-ayam. Anak-anak lain bermain dengan anjing dan kucing peliharaan budak-budak panti.  

Byomå duduk di pojok gedung panti berbentuk tapal kuda dengan jendela-jendela besar itu. Di bawah naungan mirip atap serambi tapi tak berpagar di kanan sisi gedung. Dia mengamati anak-anak lain sambil menggenggam erat sulingnya. 

Byomå mengenakan pakaian panti yang serbakedodoran, bersepatu tua. 

Tiga anak Mestizo perundung mendatangi Byomå: Dirk Plaay van Batavia (Berambut merah, pipi bintik-bintik), Hendriksz van Mauritius (Rambut cokelat, mata cokelat), dan Moses Spanjer van Semarang (paling jangkung, berkulit terang, bermata cokelat berambut kemerahan). Ketiga-tiganya lebih tua dua atau tiga tahun dibanding Byomå. Ketiganya juga berbadan lebih besar dibanding anak itu.

MOSES

(Duduk merapat di kanan Byomå) 

Hai, Nicolaas.

Dirk, dan Hendriks duduk merapat di sebelah kiri. Byomå terjepit di tengah-tengah.

MOSES

(Menyilangkan lengannya ke bahu Byomå)

Mainkan satu lagu buat kami dengan sulingmu. 

Byomå diam saja. Tidak menolak tidak mengiyakan.

MOSES

(Mendekatkan wajahnya ke Byomå)

Sombong sekali kamu.

BYOMȦ

(Bergetar)

Jangan ganggu saya.

Moses dan teman-temannya tertawa.

MOSES

(Mengulang kalimat Byomå)

Jangan ganggu saya. Memangnya kenapa kalau saya ganggu kamu?

Moses meraih suling Byomå. Hendak dia tarik suling itu tetapi Byomå mempertahankannya.

MOSES

(Teriak)

Pinjam!

BYOMȦ

Tidak boleh!

Dirk dan Hendriks memegangi tangan Byomå. Moses akhirnya berhasil merebut suling bambu itu dari tangan Byomå.

BYOMȦ 

(Berair mata marah)

Kembalikan!

Dua tangan Byomå ditahan oleh Dirk dan Hendriks. Kakinya menyepak-nyepak tanpa guna. Moses coba membunyikan suling Byomå. Ke luar bunyi-bunyi tak berirama. Begitu terus beberapa kali sampai Moses bosan. 

MOSES

(Membanting suling itu ke tanah) 

Tidak bagus.

Dirk dan Hendriksz terbahak-bahak. Mereka belum melepaskan kedua tangan Byomå. Menunggu perintah Moses. 

MOSES

(Mengangkat salah satu kakinya)

Oh, Tuan Putri sampai menangis rupanya. Bagaimana kalau suling ini saya injak saja?

BYOMȦ

(Teriak)

Jangan!

DIRK

Injak saja.

HENDRIKS

Setuju! Injak saja!

Moses melirik Byomå. Menikmati tangisan Byomå. Kakinya mengentak, hendak menghancurkan suling Byomå. Namun, belum lagi kakinya sampai ke tanah, badan Moses terpelanting lebih dulu. Jacoba (perempuan muda yang perilakunya seperti anak laki-laki, bongsor, berambut merah gelombang, kulit putih pucat, mata biru) mendorongn Moses sampai tersaruk ke tanah. Tangan dan pipinya lecet dan sedikit berdarah.

JACOBA

(Menunjuk Moses)

Kamu! Sambil suling itu, kembalikan kepada pemiliknya dan minta maaf.

Dirk dan Hendriksz buru-buru menolong Moses. Membantunya bangun. Byomå masih berdiri di tempatnya. Menghapus air mata di kedua pipinya. Anak-anak yang tadi asyik bermain sekarang menonton mereka dengan tegang.

JACOBA

Kataku, ambil suling itu. Kembalikan!

MOSES

Anak perempuan tak tahu aturan!

JACOBA

Terus kamu anak laki-laki macam apa!

MOSES

(Memegangi pipinya yang lecet)

Beraninya dengan anak lebih kecil.

JACOBA

Kamu sendiri! Beraninya dengan anak lebih kecil. Keroyokan lagi.

Byomå melangkah maju, hendak mengambil sulingnya, tapi dicegah Jacoba. 

JACOBA

Biarkan saja. Biar dia yang mengambilnya.

MOSES

Tidak mau!

Jacoba menghampiri Moses. Dia seret kerah bajunya. Moses meninju Jacoba tapi tangannya terlalu lambat. Jacoba menangkis tangan Moses lalu ganti meninju wajahnya. Moses terjungkal lagi ke tanah.

DIRK

Moses!

Dirk hendak menolong Moses namun urung karena Jacoba sudah mengulurkan tinjunya. 

JACOBA

Kalian juga mau saya tinju?

Dirk dan Hendriksz diam di tempat mereka berdiri. 

JACOBA

(Memelototi Moses)

Ambil!

Terpaksa, Moses bangun lalu menghampiri suling Byomå . Dia mengambil suling itu. 

JACOBA

Kembalikan kepada pemiliknya.

Moses menahan tangis. Air mata mengintip-ngintip. Dia menghampiri Byomå dan menyerahkan sulingnya.

JACOBA

Minta maaf!

MOSES

Maaf.

JACOBA

(Menghampiri Moses dengan langkah berderap) 

Minta maaf yang baik.

Moses mengulurkan tangan. Byomå menyambutnya.

MOSES

Maafkan aku, Nicolaas.

Byomå mengangguk saja. Dia menerima suling itu lalu membersihkannya dari remah-remah tanah.

JACOBA

Bilang, aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi.

Moses menoleh ke Jacoba. Kesannya tidak terima.

JACOBA

Ayo katakan!

MOSES

Aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi, Nicolaas.

Jacoba menyentak kerah baju Moses. Dia dekatkan wajahnya ke wajah Moses. Hidungnya yang mencuat menempel di hidung Moses.

JACOBA

Pegang omonganku. Mulai hari ini, Nicolaas akan bebas bermain, tenang belajar, dan aman tidur di kamar asrama. Jika dia terganggu sedikit saja, aku akan mencari kamu. Akan kupatahkah tulang-tulangmu. Kulempar kamu ke kanal sampai hanyut ke Ommelanden. Tidak akan ada yang menangisi kamu. Tidak ada yang akan mencari kamu. Kecuali buaya-buaya Sungai CIliwung yang akan mengunyah badanmu sampai habis.

Wajah Moses pucat bukan main. Menangis kemudian. 

JACOBA

Jelas?

Moses terisak-isak, mengangguk pasrah. Jacoba melepasnya dalam satu entakan.

JACOBA

Bawa kawan kalian pergi! Muak aku melihat wajah penindas macam kalian.

Dirk dan Hendriksz buru-buru mengajak Moses pergi sambil berusaha menghentikan tangisnya yang menjadi-jadi. Anak-anak lain yang tadi menonton pun bubar. Kembali asyik dengan permainan masing-masing.

JACOBA

(Menghampiri Byomå)

Kamu tidak apa-apa?

Anak-anak penindas seperti mereka harus diberi pelajaran sekali-kali.

BYOMȦ

(Ragu-ragu)

Kamu… benar-benar akan melakukannya?

JACOBA

Melakukan apa?

BYOMȦ

Mematahkan tulang Moses. Melemparnya ke sungai. Jadi makanan buaya.

JACOBA

Memangnya kenapa?

BYOMȦ

Itu … mengerikan.

JACOBA

(Tertawa lalu menepuk bahu Byomå)

Tentu saja tidak. Itu hanya untuk membuat dia jera.

BYOMȦ

(Polos)

Oh, begitu.

JACOBA

Kamu lucu sekali. Selama tinggal di sini, anak-anak itu selalu mengganggumu?

Byomå mengangguk.

JACOBA

Di asrama juga?

BYOMȦ

Iya.

JACOBA

Apa yang mereka lakukan?

BYOMA

(Perlahan)

Mengambil tikar, bantal. Kadang jatah makanan.

JACOBA

Jadi bagaimana kamu tidur?

BYOMȦ

Di lantai saja. Tidak pakai apa-apa.

JACOBA

Kurang ajar mereka.

BYOMA

(Menatap Jacoba dengan serius)

Terima kasih, Jacoba.

JACOBA

(Jacoba memundurkan badannya, heran)

Kamu tahu namaku?

BYOMȦ

Kamu terkenal di panti ini.

JACOBA

(Pura-pura malu)

O, ya? Tentu saja karena cuma aku anak perempuan yang susah diatur di tempat ini.

BYOMȦ

Saya punya kakak perempuan seperti kamu?

JACOBA

Kamu bersungguh-sungguh? Di mana?

BYOMȦ

Di Batavia. Kami diculik dan terpisah. Kakak saya dijual jadi budak, adik saya di Ommelanden tinggal di rumah Tabib Nioto. Saya di sini.

JACOBA

Oh, begitu.Kakakmu seusia denganku?

BYOMȦ

(Mengangguk)

Mungkin lebih tua sedikit.

JACOBA

Secantik aku?

BYOMȦ

(Tersenyum)

Mata kakak saya juga biru.

JACOBA

(Keheranan)

Menarik

BYOMȦ

Saya ingin bertemu kakak dan adik saya.

JACOBA

Kamu tahu di mana mereka, tepatnya?

BYOMA

Kalau pondok Tabib Nioto saya tahu. Di tepi Sungai Udang. Kalau Mbakyu Saathi saya tidak tahu.

JACOBA

Sungai udang? Awal yang bagus. Suatu hari kita akan ke sana.

BYOMȦ

(Bersemangat)

Sungguh?

JACOBA

(Mengajak Byomå mengadu telapak tangan)

Di Batavia, tak ada yang tidak bisa Jacoba Appeldoorn lakukan, Anak Muda.

Byomå menyambut tangan Jacoba. Genggamannya kencang, sedikit menyakitkan.

JACOBA

Kamu sudah lebih bersemangat sekarang?Saya bahkan bisa mengajak kamu melihat Sandiwara Jalanan orang-orang China.

BYOMȦ

Saya tidak tahu apa itu Sandiwara Jalanan.

JACOBA

Berarti kita memang harus melihatnya.

Byomå mengangguk sambil tersenyum lebar. Jacoba tertawa.

CUT TO:

107. INT. RUANG KERJA RUMAH YATIM (PETANG)

Cast: Witgens, Anna Sal

ESTABLISH: RUMAH YATIM DENGAN ANGLE BERBEDA

Di salah satu ruang kerja gedung Anak Yatim, Anna Saal (pengawas panti, sangat muda bertutur kata lembut, hatinya penyayang, rambut pirangnya digelung, gaunnya bersahaja yang tak mencolok) tengah menekuri selembar surat. Ketika itu, Ibu Asrama Witgens (Berbadan gemuk, pendek, pipi tembab, bergerak pelan-pelan).

WITGENS

Nona Anna.

ANNA

(Bangun dari duduknya)

Ibu Wali.

WITGENS

Anda sudah selesai mengajar anak-anak?

Witgenst duduk di kursi kayu dengan pelan-pelan.

ANNA

(Duduk kembali)

Sudah Ibu. Tadi kami melatih paduan suara.

WITGENS

Apa rencana Anda besok?

ANNA

(Heran) 

Besok? Tentu saja ke gereja, Ibu.

WITGENS

Eh, maksud saya hari Senin.

ANNA

(Mengangkat lembar surat di tangann)

Senin pagi saya berencana mengunjungi Ommelanden. Saya perlu mengecek permohonan santunan.

WITGENS

Orang mardiker?

Anna tersenyum tanpa mengiyakan. Dia membereskan lembar-lembar di meja.

WITGENS

Sebagian anak-anak di panti ini pun akan berakhir seperti mereka, saya kira.

ANNA

(Menghentikan gerakannya)

Tugas kita adalah menyiapkan mereka agar kelak punya kehidupan yang baik, Ibu.

WITGENS

(Menggoyangkan kepala)

Ya, dua atau tiga dari mereka mungkin berhasil. Tapi anak-anak yang lahir bahkan tanpa diinginkan biasanya tidak punya masa depan.

Anna menyimak tapi tampak tidak nyaman.

WITGENS

Kadang-kadang saya bertanya dalam hati, Nona Anna Untuk apa memaksa orang-orang itu masuk ke gereja jika kemudian menjadi beban saja?

Saya kira Dewan Diaken pun tidak senang ketika Pemerintah Agung mengambil banyak sekali anak-anak berdarah campuran dari berbagai tempat di Jawa. Itu membuat beban panti ini semakin berat saja.

ANNA

Itu sudah menjadi kewajiban kita, Ibu.

WITGENS

Bagaimana mereka akan menjadi orang-orang berhasil jika mereka lahir dari perbuatan yang buruk? Bagaimana mereka bisa menjadi pengacara, pengusaha, guru, hakim, notaris barangkali.

ANNA

Hidup memiliki tujuan yang lebih mulia dibanding sekadar meraih kemilau duniawi, saya rasa. 

WITGENS

Anda begitu mengimani itu?

ANNA

Memuliakan agama adalah kunci mencapai kenikmatan Tuhan.

WITGENS

(Setelah diam beberapa lama)

Sebenarnya saya menemui Anda untuk membicarakan hal lain.

ANNA

Hal apa, Ibu?

WITGENS

Perihal rencana membawa anak-anak ke luar tembok.

ANNA

Ah, rencana itu.

WITGENS

(Mengangguk)

Saya kira kebun mangga Lembaga Pengurus Ommelanden bisa menjadi pilihan yang menarik.

ANNA

Ide yang bagus. Kita memberi pengalaman yang menyenangkan kepada anak-anak. Naik perahu ke Ommelanden lalu melakukan pesta kebun yang seru.

WITGENS

Anda setuju?

ANNA

(Menoleh ke tumpukan berkas di pinggir meja)

Tentu saja harus kami rapatkan dulu. Perihal biaya dan waktunya.Lagi pula Dewan Diaken punya perhatian lain tentang panti, Ibu.

WITGENS

Maksud Anda?

ANNA

Kami sedang menjadwalkan untuk melakukan kunjungan menyeluruh.

WITGENS

Menyeluruh?

ANNA

(Mengangguk)

Selain akan ada pemeriksaan gedung dan isinya, Dewan juga menginginkan pemeriksaan kemampuan anak-anak.

WITGENS

Bukankah para guru sudah melakukannya?

ANNA

Dewan Gereja hendak mengevalusi seluruh guru dan semua pihak.

WITGENS

Termasuk saya?

Anna tak menjawab. Hanya tersenyum dalam.

WITGENS

Apakah Anda melaporkan saya, Nona?

ANNA

(Lembut)

Tidak seperti itu, Ibu. Ini sudah biasa dilakukan oleh Dewan Gereja. 

WITGENS

Apa yang akan diperiksa?

ANNA

(Berhati-hati bicara)

Mungkin diantaranya, anak-anak akan dipanggil satu per satu. Didengarkan pendapatnya, kegelisahannya. 

WITGENS

Apakah kerja saya dinilai buruk sampai harus diperiksa begitu teliti?

ANNA

(Menggeleng)

Pemeriksaan yang sama akan dilakukan oleh Dewan Diaken di Panti Fakir Miskin, Ibu.Semua akan diperiksa.

Anna lalu bangun sambil mengambil lembar surat dari atas meja. 

ANNA

Itulah mengapa Senin depan saya pergi ke Ommelanden. Saya harus melakukan pemeriksaan. Dewan Diaken harus memastikan penerima santunan benar-benar orang yang berhak.

WITGENS

Soal tempat tidur dan bantal itu.

ANNA

Bagaimana, Ibu Wali.

WITGENS

Saya tahu ada isu yang beredar bahwa saya menjual pakaian tidur, kasur, dan bantal yang harusnya dipakai oleh anak-anak.

Anna menunggu sambil memeluk berkas-berkas.

WITGENS

Yang sebenarnya terjadi adalah saya memakai uangnya untuk membeli seragam anak-anak perempuan untuk pergi ke gereja. Sisanya untuk dapur panti. Bahan makanan pokok semakin mahal. Saya harus pandai mengatur keuangan, mana yang harus didahulukan mana yang bisa ditunda.

ANNA

Saya kira. Sebaiknya Ibu Wali menyimpan penjelasan itu untuk Dewan Diaken saja. Ibu akan diberi kesempatan untuk menerangkannya.

WITGENS

Tapi Anda adalah anggota Diaken, Nona Anna. Paling tidak, Anda bisa sedikit membantu saya.

ANNA

(Menggeleng sambi tersenyum)

Cara kerja Dewan Diaken tidak seperti itu, Ibu.

WITHGENS

(Parau)

Saya mohon, Nona. 

Saya tidak tahu harus pergi ke mana jika saya dipecat dari panti.

ANNA

Itu simpulan yang terlalu jauh, Ibu.

WITGENS

Saya tahu orang-orang tidak menyukai saya dan ingin saya pergi dari panti ini.

ANNA

(Menghampiri Witgens, menyentuh pundaknya)

Ibu cukup sampaikan saja sejauh yang sudah Ibu lakukan. Selebihnya Tuhan tahu apa yang terbaik.

Witgens malah tambah tergugu. Kepalanya menunduk, punggungnya berguncang.

ANNA

Saya benar-benar harus pergi sekarang, Ibu. Maafkan saya.

Anna melangkah agak cepat, meski sempat sekali menoleh kepada Witgens. Tepat ketika punggung Ibu Wali Panti itu berhenti berguncang. Tangisnya tak bersisa, seketika. 

CLOSE UP: WAJAH ANNA.

FADE OUT:

Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar