Cuplikan Chapter ini
Hujan datang tanpa peringatan menutup sore dengan bau tanah basah Seeyana berdiri di depan mesin cetak yang berhenti mendadak menatap angka-angka di layar dengan dahi berkerutSabarnya diuji gumam Pak Hendra Mesinnya rewelSeeyana tersenyum tipis lalu ikut membantu Tangannya kotor tinta bajunya sedikit basah oleh cipratan air Saat mesin kembali berdengung ada rasa puas yang tidak berisikia berhasil menahan panik menahan keinginan untuk menyalahkan keadaanPonselnya bergeta