Cuplikan Chapter ini
Seeyana menutup pintu apartemen dengan punggungnya sendiri Bunyi kunci beradu pelan tapi getarnya terasa sampai ke dada Ia berdiri di sana beberapa detik menenangkan napas yang belum sepenuhnya kembali normalCiuman singkat itu terlalu singkat untuk disebut pelarian terlalu dekat untuk diabaikan masih membekas Bukan di bibirnya melainkan di kepala Ingatan lama yang tak pernah benar-benar hilangIa melangkah ke kamar duduk di tepi ranjang lalu menunduk Tangannya gemetar Seeyana