Cuplikan Chapter ini
Hujan turun lebih deras malam itu memukul kaca jendela dengan ritme tak sabar Seeyana berdiri di dapur kecil memanaskan air ketika ponselnya bergetarRavent Aku di depanSeeyana memejamkan mata Ia tidak ingat memberi izin Tapi ia juga tidak mengirim larangan Jeda itulah yang membuat pintu akhirnya terbukaRavent berdiri di ambang basah diam Tidak ada senyum Tidak ada pembelaan Hanya dua pasang mata yang saling tahu ini bukan kunjungan biasaMasuk kata Seeyana pelanPint