Cuplikan Chapter ini
Hujan turun sejak sore membuat kota terasa lebih sempit dari biasanya Seeyana menatap jendela apartemen menyeka embun dengan punggung tangan Hari itu melelahkan bukan karena pekerjaan melainkan karena pikiran yang tak berhenti bergerakPonselnya bergetarRavent Aku di bawah Aku cuma mau ngobrolSeeyana memejamkan mata Ia tahu setiap pertemuan kini berada di ambangsedikit terlalu dekat sedikit terlalu rawan Tapi ia juga tahu menghindar terus-menerus hanya akan menunda sesuatu