Cuplikan Chapter ini
Pagi itu terasa berbeda Bukan karena hujan yang berhenti atau cahaya matahari yang masuk lebih berani ke apartemen Alya melainkan karena keheningan di kepala Seeyana Tidak riuh Tidak berisik Hanya sunyi yang penuh maknaIa berdiri di depan wastafel membasuh wajah Bayangan semalam masih adahangat dekat dan rapuh Tapi ia tahu satu malam tidak menghapus garis yang sudah ia tarikPonselnya bergetarNama SuryaniSeeyana menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat Iya Bu