Cuplikan Chapter ini
Hari pertama Seeyana bekerja dimulai dengan bau kertas dan dengung mesin cetak yang konstan Percetakan kecil itu tidak ramai tapi hidup Tangan Seeyana bergerak kaku di awalmengurutkan pesanan mengecek cetakan mencatat jumlah Tidak glamor Tidak mudah Tapi nyataIa menyukai rasa lelah yang datang dari usahanya sendiriKalau capek bilang kata pemilik percetakan Pak Hendra sambil menunjuk kursi di sudut Di sini kita kerja rapi bukan ngebutSeeyana mengangguk Siap PakS