Cuplikan Chapter ini
Pintu kayu tebal ruang sidang itu akhirnya bergerak perlahan menimbulkan bunyi gesekan halus yang terdengar jauh lebih keras di lorong yang sejak tadi terasa terlalu hening Laras yang berdiri beberapa meter dari pintu langsung mengangkat wajahnya seolah seluruh tubuhnya sejak hampir dua jam lalu memang hanya menunggu suara itu Tangannya yang semula saling menggenggam di depan perut spontan terlepas sementara matanya terpaku pada celah pintu yang semakin terbuka Dari dalam ruangan beber