Cuplikan Chapter ini
Di balik pintu kayu nomor empat Raka berdiri dengan kedua telapak tangan menempel pada permukaan pintu yang dingin Kakinya terasa seperti bukan miliknya sendiri berat dan lemas sekaligus sementara lututnya sesekali bergetar tanpa bisa ia kendalikan Dari celah bawah pintu cahaya lampu teras yang kekuningan membentuk garis tipis di lantai semen kamar satu-satunya tanda bahwa di luar sana masih ada dunia yang berjalan seperti biasa Raka bisa mendengar suara kendaraan lewat di gang sempit