Cuplikan Chapter ini
Seni Menolak dengan Kelembutan Hati---Udara pagi di serambi rumah Kiai Ahmad berhembus lembut membawa aroma basah dari kebun bunga melati yang baru saja disiram Di atas meja kayu jati yang mengilap terhidang secangkir teh hijau hangat dan sepiring jajanan pasar Namun bukan ketenangan pagi yang memenuhi pikiran Kiai Ahmad saat ini melainkan tumpukan surat dan pesan titipan yang memenuhi amplop-amplop berstempel khususSurat-surat itu datang dari berbagai penjuru kota bahkan dari kabupat