Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
semesta
Suka
Favorit
Bagikan
17. Ayah?


MONTAGE

95. EXT. ARENA FINISH ARUM JERAM. DAY

Di pinggir sungai.

Akbar mengambil langkah besar berjalan keluar dari perahu karet.

Ia menjulurkan lengannya membantu Indah keluar dari perahu.

Semua orang berjalan keluar satu persatu. Langkahnya menapaki tanah kembali.

Indah mengepalkan lengannya menyembunyikan rasa dingin yang terus menusuk tubuhnya.

Insert: Akbar melepas helm dan pelampung dari tubuhnya.

Diikuti oleh orang-orang yang berada di belakangnya melakukan hal yang sama termasuk Indah.

Akbar mengernyitkan dahinya. Pandangannya terhenti, melihat Indah dengan kaos yang di pakainya terlihat tembus pandang.

Insert: Akbar meletakkan jaket miliknya di atas tubuh milik Indah. Menutupi seluruh bagian atas tubuh Indah.

AKBAR

(Mengingatkan)

Lain kali, jangan pake baju kaya gini!

Indah mengangguk mengiyakan, kedua lengannya memegang ujung jaket. Akbar berjalan meninggalkan Indah di tempatnya.


96. INT. RUANG VIP 01-RS.DAY

Insert : beberapa lembar foto terletak di meja menunjukkan gambar Akbar bersama teman-teman barunya.

Di dalam foto terdapat Akbar bersama teman-temannya yang tengah menghabiskan waktu bersama.

Di satu foto terlihat Dita yang tengah menyuapi Akbar semangka. Di foto lainnya terlihat Akbar yang mengenakan baju bercorak loreng tengah melakukan aktivitas outbond.

Shakti menggetarkan sebuah foto.

Di foto terakhir terlihat Akbar yang sudah memakai pelampung dan helm pelindung di kepalanya.


DHARMA

Dia baik-baik saja kan

Shakti tersenyum, dengan matanya yang masih berbinar, bahagia.

SHAKTI

Beri dia satu Minggu lagi.

Dharma mengernyitkan dahinya.

SHAKTI (CONT'D)

Jangan mengganggunya.
Biar kan dia lebih lama bersama teman-temannya.

Kemudian tangannya bergerak menyentuh tubuh kekar Baron, sambil memberinya perintah.

Baron mengangguk, kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop dari dalam lemari kecil di samping ranjang yang ditempati sakti.

Shakti mengacungkan amplop itu ke arah Dharma.

Dharma tersenyum puas. Kemudian kepalanya menoleh ke arah Rangga yang berada di belakangnya.

INTERCUT

97. EXT. DEPAN MINIMARKET SEBELAH KAFE.NIGHT

Sebuah mobil hilux terhenti di depan mini market. Sorot lampu mobil berhenti menyala bersamaan dengan suara mesin yang ikut mati.

98. INT. DI DALAM MOBIL. NIGHT

Akbar duduk di belakang setir mobil, Indra duduk di kursi penumpang bagian depan.

Insert: lengan Akbar menarik tuas rem tangan mobil.

Kepalanya menoleh ke belakang, melihat ke arah Indah yang duduk di kursi belakang mobil.

AKBAR

Kita turun di sini aja.


Indah mengangguk, Lalu ia bergegas turun menuruni mobil Indra.

AKBAR

(Memastikan)

Lo gapapa nyetir sendiri?

Indra mengangguk, tatapan matanya terlihat kosong. Sejak tadi ia berhenti bicara.

Apa yang ia dengar dari Akbar membuatnya mengingat kejadian enam tahun lalu. Pikirannya terus mencari pembenaran berharap kalau Akbar bukan lagi Akbar yang ia kenal saat di bangku SMA.

Namun, semuanya terpatahkan, ketika Akbar berbicara mengenai latar belakang sekolah dan temannya yang meninggal.

INDRA

(Memanggil pelan)

Bar

Akbar menoleh kearah Indra.

INDRA (CONT'D)

Kejadian lima Mei tahun 2009,
Bukan gue pelakunya.

Akbar terdiam untuk beberapa saat.

Fx: suara ketukan jendela mobil.

Insert : Indah mengetuk-etuk jendela meminta Akbar segara turun dan menemuinya.

99. EXT. BANGKU MINI MARKET. NIGHT

Akbar meletakkan barang bawaannya di lantai. Tubuhnya berbalik mmelihat ke arah Indah.

AKBAR

Mau es krim?

Indah mengernyitkan dahinya.

Insert : Sweater yang di pakai Akbar terlihat basah karena keringat yang keluar dari tubuhnya.

Indah mengalihkan pandangannya dari Akbar. Lalu, mengangguk.

Lima menit kemudian.

Akbar kembali membawa duah buah ice cream cone dan duduk berhadapan dengan Indah.

Insert: Indah menerima ice cream yang Akbar serahkan.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Menikmati es krim yang masuk ke dalam mulutnya tanpa melakukan sedikit perbincangan pun.

INDAH

Kenapa?

Indah mengajukan pertanyaan. Menyadari Akbar yang terlihat tidak tenang.

Ia menggoyang-goyangkan kakinya, cemas.

Insert: Bayangan orang bertubuh gembal dan besar terlihat berdiri di sekitar kafe Indah.

INDAH (CONT'D)

Kenapa?

Mengetahui Akbar tidak mendengarnya, Indah kembali mengajukan pertanyaan yang sama.

Akbar menoleh, lalu menggelengkan kepalanya.

Indah beranjak dari posisinya. Membuat Akbar mengernyitkan dahinya.

INDAH (CONT'D)

Udah dateng

Insert: sebuah taxi berhenti di depan mini market.

AKBAR

Mau ke?

INDAH

Pulanglah

Akbar terdiam.

INDAH (CONT'D)

(Menyerahkan kunci)

Nih

Indah melangkahkan kakinya, ia berhenti tepat di samping Akbar. Mengambil dia tas berukuran besar di lengan kan dan kirinya.

INDAH (CONT'D)

Sekalian di laundry aja ya.

Akbar diam tak menjawab.

INDAH (CONT'D)

(Berpamitan)

Duluan ya bar.

Tak ada jawaban yang di keluarkan pria itu.

Akbar mengatur nafasnya, detak jantung nya berdegup sangat kencang. Takut sesuatu akan menimpanya.

100. INT. TAXI. NIGHT

Taxi melaju meninggalkan mini market.

Indah menoleh ke belakang.

Insert : Akbar masih terduduk di bangku minimarket.

Asap dari rokok yang di hirupnya terlihat keluar dari bagian mulut dan hidungnya.

Indah menggelengkan kepalanya, mencoba memikirkan hal lain. Dan tidak terpaku dengan Akbar.

101 EXT. DEPAN PINTU KAFE. NIGHT

Akbar menghentikan langkahnya ragu, lengannya mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya.

Fx : suara kunci terjatuh.

Insert : sesuatu menutupi kepala Akbar membuat pandangannya gelap.

Fx: seruan nafas terdengar keluar dari mulut Akbar.

Lengannya berusaha membuka kain penutup itu. Usaha yang di keluarkan Akbar membuatnya kehilangan banyak tenaga dan perlahan ia kehilangan kesadarannya.

ORANG SURUHAN 1

(Kelelahan)

Huh

Ia mengeluarkan nafas lega, setelah menyadari Akbar kehilangan kesadarannya.

Kedua orang itu menyeret tubuh Akbar masuk kedalam sebuah mobil van berwarna hitam.

102. INT. GEDUNG KUMUH. DAY

Insert: tubuh Akbar terbaring menelungkup di lantai yang kotor itu. Bagian matanya tertutup oleh sebuah kain dan pergelangan tangannya terikat.

Fx : suara deruan nafas.

Akbar sudah kembali sadar.

Ia membangkitkan tubuhnya. Penglihatannya masih gelap. Tak ada yang bisa ia lihat selain warna hitam pekat di depannya.

Fx : hentakan telapak kaki.

Insert : Sepasang kaki berjalan bergantian.


Akbar menggerakkan kepalanya, berusaha mendengarnya lebih jelas.

Dharma menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Akbar. Lengan kanannya bergerak menarik kepala Akbar ke belakang.

Kepala Akbar menengadah. Jantungnya kembali berdegup kencang.

Lengan kiri Dharma membuka penutup mata Akbar.

Kilatan cahaya menusuk penglihatan Akbar membuatnya kembali memejamkan matanya.

Dharma tersenyum menyapa Akbar yang terkejut.

AKBAR V.O

Ayah

Dharma beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju singgasananya. Duduk dengan kaki kiri menopang kaki kanannya.

DHARMA


Gimana udah liburannya?

Akbar mengangguk.

Insert: Dalam sudut pandang Akbar. Ia melihat bodyguard yang berdiri di sepanjang pintu.

Bola matanya kembali bergerak melihat ke cahaya kecil yang menembus jendela. Cahaya itu memberi tahunya bahwa waktu sudah berganti.

Lengan Akbar bergerak mencoba melepas tali yang mengikat kedua lengannya.

DHARMA (CONT'D)

Mau kemana? santai aja bar!

Akbar menggeleng, menolak ucapan Dharma. Ia terus bergerak mencoba melepas ikatannya.

DHARMA (CONT'D)

(Meledek)


Mau ke mana?

Akbar menggeleng tak menjawab.

Dharma melangkahkan kakinya kembali menghampiri Akbar. Kedua lengannya merangkul sweater Akbar. Membawanya lebih dekat ke arahnya.

DHARMA (CONT'D)

Pulang sekarang!
Temui Bapak dan kembali ke Australia.

Akbar menundukkan kepalanya.

DHARMA (CONT'D)

Jangan mengotori jalan Ayah!

Telapak lengannya menampar-nampar kecil pipi Akbar.

AKBAR

(Menolak tegas)

Ngga mau.

Bola mata Dharma membelalak. Ia mempererat cengkeramannya dari Akbar.

AKBAR (CONT'D)

Ngga, ngga mau!
Akbar mau disini dan ngga akan balik lagi.

Fx : Suara pukulan keras yang terus berurutan.

Dharma kembali melayangkan pukulannya kearah tubuh Akbar.

Akbar hanya terdiam, menerima semua pukulan yang mengenai tubuhnya.

Ini hal yang lumrah Dharma lakukan setiap Akbar melakukan suatu hal yang tidak sesuai keinginannya ia selalu membalasnya dengan pukulan.

DHARMA

(Berdecak kesal)

Ahhh

Fx: suara ringisan kesakitan yang Akbar keluarkan.

Insert: Dharma beranjak dari posisinya. Kakinya menendang-nendang dan menginjak tubuh Akbar secara bergantian.

Akbar memejamkan matanya, seluruh bagian tubuhnya kini terasa semakin sakit. Bagian ujung mulutnya mengeluarkan darah.

Rangga bergerak cepat menghentikan Dharma yang menggila.

RANGGA

Cukup bos!

Rangga menyeret tubuh Dharma agar menjauh dari Akbar.

Dharma terduduk di lantai. Lengannya bergerak melonggarkan dasi yang menempel di bagian bawah lehernya.


DHARMA

(Terengah-engah)

Jangan benci ayah!
Ayah sudah minta baik-baik.
Tapi, kamu tidak mendengarnya.

Insert: Gasoline menyala menyentuh ujung batang rokok yang ada di bibir Dharma.

DHARMA (CONT'D)

Oke. Silahkan tinggal di tempat ini.

Dharma duduk kembali di singgasananya.

DHARMA (CONT'D)

(Memberi perintah)

Lihat ke belakang!

Akbar menggeser tubuhnya menatap ke arah Dharma dan sebuah layar proyektor di samping nya.

Insert: layar proyektor menyala. Menampilkan sosok Indah yang tengah duduk di kursi penumpang bus.

Pupil matanya membesar, terkejut.

AKBAR

(Bergumam)

Indah

Tiga puluh detik kemudian.

Beberapa mobil berjalan serempak mendekat ke arah bus, mengepungnya.

Akbar menggeleng tak mengerti kemudian ia menatap tajam ke arah Dharma.

Fx : suara monitor "target terkunci"

DHARMA

Pilihlah.
Siapa yang harus hidup lebih lama.

Fx : suara gelakan tawa dari Akbar bergema.

Dharma menatap, bingung.

AKBAR

Apa kejadian kemarin belum cukup?

Menyinggung tentang kematian ibunya.

Dharma membalasnya dengan tatapan tajam.

DHARMA

(Berbicara ke HT)

Oke, mari biarkan Akbar disini lebih lama.

Insert: layar monitor kembali bergerak menyuguhkan mobil-mobil yang terus menguntit bus yang di tumpangi Indah.

AKBAR

(Berteriak kesal)

Yaa
Berhenti.

Dharma tersenyum menyeringai.

AKBAR (CONT'D)

(Berteriak)

Berhenti.

(Memohon)

Satu minggu, kasih waktu Akbar satu minggu lagi.
Habis itu Akbar turuti semua kemauan ayah.

Dharma berdecak kesal, kemudian berjalan mendekat kearah Akbar.

DHARMA

Ngga, kamu ngga bisa mengatur ayah seenaknya.

Ia mencengkeram kerah baju Akbar.

DHARMA (CONT'D)

Sampai bertemu tiga hari lagi.
Sampai hari itu, hiduplah dengan sehat.

Dharma kembali menepuk-neouk pipi Akbar.

Lengannya merogoh saku dalam jas miliknya mengeluarkan sebuah kater.

Memotong tali yang mengikat oergelangan tangan akbar.

AKBAR

(Meringis)

Awww

Ujung kater menyentuh bagian kulitnya membuat darah keluar.

DHARMA

Maaf, ayah ngga sengaja

CUT TO BLACK:

Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar