Cuplikan Chapter ini
Sekoci kayu tua itu terombang-ambing di tengah laut yang mendadak berubah menjadi hitam pekat sepekat tinta Kabut yang turun bukan lagi kabut laut biasa ia terasa dingin lengket dan berbau anyir seolah-olah mereka sedang berlayar di atas genangan darah yang membeku Di kejauhan siluet kapal kayu kuno dengan layar robek-robek itu semakin mendekat membawa ribuan sosok pucat yang berdiri kaku di sepanjang deknyaGak mungkin kita harusnya sudah jauh dari pulau bisik Supri sambil terus