Cuplikan Chapter ini
Jam dinding kuno di aula utama berdentang dua kali suaranya bergema berat menembus sunyinya lorong-lorong Villa Winarsih Di dalam kamar yang luas namun berbau apek Danu tidak bisa memejamkan mata Ia terus terbayang wajah Dodit yang pucat dan muntahan lendir hijau yang berbau busuk tadi malam Di ranjang sebelah Bagus mendengkur halus kelelahan setelah membantu membopong Dodit ke kamarnyaTiba-tiba suara derit pintu kayu yang pelan tertangkap oleh telinga tajam Danu Ia menajamkan pende