Cuplikan Chapter ini
Pagi hari di Pondok Pesantren Al-Ihsan selalu dimulai dengan harmoni suara langkah kaki para santri yang berbondong-bondong menuju surau berpadu dengan desiran angin dingin sisa embun malam yang menempel di pucuk-pucuk daun mahoni Udara terasa begitu segar menghadirkan ketenangan batin yang teramat dalam bagi siapa pun yang menghirupnya Di salah satu sudut kamar asrama santri putra Hidayatullah berdiri tegap di depan cermin kecil kayu merapikan letak peci beludru hitam di kepalanya dan