Cuplikan Chapter ini
Matahari sore di Pondok Pesantren Al-Hikmah mulai tergelincir menyisakan semburat jingga yang memantul di permukaan kolam ikan depan kediaman Kiai Zainal Abidin Ayun berdiri mematung di teras ndalem jemarinya meremas ujung gamis berwarna krem yang dikenakannya Napasnya terasa berat seolah oksigen di udara sekitar mendadak menipis setiap kali ia menatap pintu kayu jati besar di hadapannyaDi dalam ruangan itu Abisebutan santri untuk Kiai Zainal Abidinsedang menerima tamu terakhirnya