Cuplikan Chapter ini
Fajar belum sepenuhnya menyibak tirai malam ketika dering lonceng besi di halaman utama pesantren berdentang nyaring memecah keheningan udara subuh yang dingin menusuk tulang Di dalam kamar asrama berukuran empat kali lima meter itu Hidayat terbangun seketika Tidak ada lagi keluhan tentang kasur lantai tipis yang dulu sempat membuatnya merasa tersiksa Sebaliknya ia bangkit dengan gerakan sigap melipat alas tidurnya dengan rapi dalam hitungan detik lalu melangkah menuju kamar mandi umu