Cuplikan Chapter ini
Matahari baru saja beranjak dari peraduannya menyisakan bias warna keunguan di ufuk timur saat Hidayat melangkah gontai menuju serambi ndalem Udara pagi di Pondok Pesantren Al-Hikmah masih terasa dingin menusuk hingga ke tulang namun rasa dingin itu kalah oleh gejolak di dalam dadanya Di tangannya ia memegang sebuah amplop cokelat berisi jawaban atas tawaran yang diberikan oleh Kiai Zainal Abidin kemarin malamSebuah tawaran yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam hidupnya aman