Cuplikan Chapter ini
Pukul dua belas tepat siang hari matahari musim kemarau berdiri tegak di puncak kubah langit Desa Cipta Rasa menghujamkan gelombang panas yang membakar tanpa ampun ke bumi Tanah liat di halaman terbuka kompleks pesantren tampak merekah dan mengering memantulkan pijar cahaya putih menyilaukan mata Di tengah lapangan berpasir keras itu Bara berdiri mematung tanpa sehelai pelindung payung di atas kepalanya Keringat bercucuran deras dari pelipisnya membentuk garis-garis basah di lehernya