Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Luka Tanpa Asa
Suka
Favorit
Bagikan
20. Penyelamatan Hana

*Peringatan

Adegan ini mengandung unsur kekerasan. Mohon tidak untuk ditiru. Disarankan bijak dalam membaca. Terima kasih


124. EXT. LORONG SEKOLAH – SIANG

HANA

(V.O.)

Ingin sekali aku segera bertemu dengan kak Haru. Padahal baru saja berpisah sebentar. Tapi rasanya sudah rindu saja. Entah kenapa rasanya kak Haru membuat hatiku selalu berdebar-debar tanpa alasan yang jelas. Terkadang dia membuat hatiku senang. Terkadang dia membuatku merasa khawatir dan sedih dibuatnya. Marah ku pun terkadang juga karenanya. Apakah pantas jika seorang adik merasakan perasaan yang berbeda pada kakaknya? Seharusnya hatiku tidak boleh untuk tidak terkendali seperti ini. Aku penasaran kenapa kak Haru memintaku untuk menemuinya sendirian. Apakah dia ingin menyatakan cintanya padaku? Aih, pikiranku terlalu jauh!

 

Hana berlari-lari kecil menuju belakang sekolah hingga nafas tidak beraturan.

 

HANA

(ngos-ngosan)

Sepertinya aku kurang berolahraga.

 

125. EXT. HALAMAN BELAKANG SEKOLAH – SIANG

Sesampainya disana, Hana dikejutkan dengan kehadiran segerombol cowok yang masing-masing membawa balok kayu. Hana memundurkan langkahnya secara perlahan. Terdengar suara gemerisik di belakang. Hana pun berbalik. Rupanya ada beberapa cowok lainnya yang membawa balok kayu juga menahan kepergiannya disana.

 

HANA

(V.O.)

Apa ini disengaja? Tetapi aku merasa tidak pernah memiliki masalah dengan mereka.

RUDI

(sambil membuang rokok dan menginjaknya di atas tanah)

Halo, cantik! Kita bertemu lagi.

 

Hana sedikit mengingatnya.

 

HANA

(menggumam)

Dia kan kakak kelas yang dulu merokok bersama kak Haru.

RUDI

(senang)

Kamu masih mengingatku?

HANA

(gugup)

Iya. Kakak kan yang dulu ingin mengajakku bermain, tetapi kak Haru tidak memperbolehkan kakak untuk pergi membawaku kan?

 

Rudi tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Hana. Teman-temannya juga ikut-ikutan tertawa. Hana tidak tahu apakah ada yang salah dengan ucapannya. Kakak kelas itu berhenti tertawa dan memegang lengan kiri Hana.

 

RUDI

(santai)

Panggil saja aku kak Rudi. Aku memang ingin sekali mengajakmu bermain. Tetapi Haru menyebalkan itu malah menghalangiku.

 

Hana melepaskan lengannya dari Rudi.

 

HANA

(V.O.)

Dia tidak bisa seenaknya menyentuhku seperti itu.

HANA

(berseru)

Menyebalkan? Kak Haru tidak menyebalkan!

RUDI

(menatap tajam)

Kamu tahu apa tentang dia? Kamu baru saja mengenalnya. Eh, sudah belagu seperti sudah seratus tahun kamu mengenalnya. Kami ini sahabat dia yang sebenarnya! Kami sangat tahu dia begitu dibenci oleh ayahnya. Kami memberikannya begitu banyak saudara disini untuk lari dari masalahnya dengan menemukan kesenangannya bersama kami. Jadi kamu jangan sok tahu tentang dirinya.

 

Hana pun tertawa menyindirnya.

 

HANA

(sinis)

Apa yang kak Rudi tahu tentang kak Haru?

RUDI

(mulai kesal)

Apa kamu bilang?!

HANA

(tegas)

Sahabat kak Haru adalah Zeno, Eldo, Iwan, dan Ridwan. Aku memang tidak pernah tahu sebelumnya jika kak Rudi yang selalu ada bersama dengan kak Haru di saat dia mengalami kesulitan. Aku sangat berterima kasih. Tetapi aku ingin mengatakannya juga. Kalau kak Rudi dan teman-teman lainnya adalah teman yang baik untuk kak Haru, kalian tidak mungkin membantunya untuk lari dari masalah. Karena sejauh apapun kak Haru berlari, dia akan tetap menemukan masalah yang sama lagi. Bukankah menghadapinya adalah jalan yang paling mudah? Walaupun rintangan yang dijalani begitu sulit, tetapi pasti dia akan menemukan jalan keluarnya. Sekarang kak Haru sudah menemukan jalan keluarnya. Seharusnya kak Rudi juga turut senang kan?

 

Hening. Hana mengira bahwa Rudi bisa menerima pendapatnya, tetapi ia merasakan kemarahan yang memuncak yang ada pada diri Rudi. Cowok tinggi semampai itu meremas kedua pundak Hana dengan kuat. Hana merasakan tubuhnya yang mulai gemetaran kala melihat tatapan tajam dari kedua mata Rudi.

 

RUDI

(marah)

Jadi benar apa kata dia kalau kamu yang selama ini menghasut Haru untuk meninggalkan kami?!

HANA

(berusaha untuk bersikap kuat)

Dia? Dia itu siapa ya, kak?

RUDI

(melepaskan kedua tangannya dari Pundak Hana)

Ckckck...okeh lupakan Haru! Aku juga mendengar banyak tentangmu.

HANA

(bingung)

Tentangku?

RUDI

(tersenyum sinis)

Ya! Tentang rambutmu yang berwarna seperti nenek tua itu dan pembulian di sekolahmu sebelumnya.

HANA

(terkejut sampai tidak bisa berkata-kata)

Aa.. tidak! Aku tidak pernah dibuli di..

RUDI

(memajukan langkahnya hingga membuat Hana semakin tersudut)

Dibuli di sekolah. Disiksa oleh ayahmu sendiri di rumah. Ckck.. kasihan sekali ya.

 

Wajah Hana langsung menunduk. Jujur, kini Hana agak sedikit ketakutan karena luka lama terbuka kembali.

 

HANA

(berbicara sendiri dengan bingung)

Siapa orang yang menceritakan kisah itu? Nggak mungkin kak Haru kan? Ataukah...

RUDI

(berkacak pinggang)

Betapa tidak beruntungnya Haru memiliki adik tiri sepertimu. Bagaimana rasanya dipukuli, hah? Enak? Ataukah.. sudah mati rasa?

 

Glek! Hana menelan ludah sesaat.

 

HANA

(V.O.)

Kenapa kak Rudi bisa mengetahui masa laluku sebanyak itu. Disini aku hanya menceritakan kisah itu pada tiga orang. Ibu, kak Haru, dan Zuna. Tetapi kalau orang itu adalah Zuna.. itu tidaklah mungkin!!! Zuna adalah sahabat terdekatku. Dia tidak mungkin melakukan hal semacam ini.

RUDI

(berteriak)

Hee.. kenapa diam? Punya mulut nggak?!

 

Hana mencoba menahan tubuhnya yang mulai bergetar. Ia begitu ketakutan berhadapan dengan Rudi. Hana coba untuk menatapnya lagi, walaupun dengan wajah ketakutan sekalipun. Sepertinya Rudi tahu akan ketakutan Hana. Rudi tertawa lagi.

 

HANA

(dengan nada bergetar)

Si.. siapa..?

RUDI

(sambil korek telinga dengan jari kelingkingnya)

Apanya?!

HANA

(gemetaran)

Siapa yang memberitahumu? Kak Haru atau..

RUDI

(tersenyum licik)

Peduli setan siapa dia! Hmm.. tapi kalau aku bilang dia adalah kakakmu tersayang, bagaimana? Apakah kamu sudah bisa merasakan rasa sakit yang sebenarnya?

 

Jantung Hana berdegup kencang.

 

HANA

(V.O.)

Hampir saja aku mempercayai kata-katanya. Kak Haru tidak mungkin melakukan semua ini kepadaku.

 

Hana pun berjongkok dan menutup wajah sembari mengusap air mata yang kian meleleh.

 

RUDI

(mengomando)

Aish! Malah nangis! Teman-teman, kita hajar ajah dia langsung.

 

Komando Rudi membuat semua temannya dari bagian depan dan belakang segera melingkari Hana. Gadis itu mendongakkan kepala. Mereka sudah siap dengan balok kayu yang mereka pegang. Hana tahu apa yang ingin mereka lakukan. Ia pun berusaha untuk berdiri tegar sambil memeluk erat tas ransel milik Haru.

 

HANA

(sambil meneteskan air mata)

Kenapa kak Rudi melakukan ini padaku? Apakah kak Haru yang menyuruh kalian?

 

Rudi menghela nafas panjang.

 

RUDI

(kemarahannya semakin meledak)

Kakean cangkem arek iki! (Banyak bicara anak ini!) Kita lihat apakah tubuhmu memang mati rasa atau tidak. Hajar, bro!!!

 

Balok kayu yang mereka bawa masing-masing langsung dihantamkan ke tubuh Hana secara bersamaan.

 

HANA

(berteriak sekeras-kerasnya)

AAAAAA.... TIDAAKKK!!!! KAK HARUUU!!!!

 

Sebuah balok kayu juga menghantam tengkuk leher Hana yang membuat pandangannya kian kabur dan menghitam.

 

CUT TO:


126. EXT. LORONG SEKOLAH – SIANG

Beberapa menit sebelumnya, Haru berjalan bersama teman-teman satu band-nya ke arah tempat parkir. Belum sampai disana, mereka melihat Reta dan Kusniyah sedang berjalan tergesa-gesa dengan pak satpam. Zeno menyuruh teman-temannya untuk menghentikan langkahnya. Reta menunjuk ke arah mereka dan ketiganya berlari menghampiri Zeno.

 

ZENO

(heran)

Kenapa kalian seperti panik gitu sih?

 

Zeno mencari sosok Hana di antara mereka. Namun Hana tidak sedang bersama mereka.

 

ZENO

(bertanya kepada satpam)

Pak, teman-teman saya kenapa pak?

KUSNIYAH

(menangis secara tiba-tiba)

Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi sendirian.

RETA

(mencoba menenangkan Kusniyah)

Udah, Kus, tenang dulu. Hana pasti baik-baik saja.

 

Haru mendekati Reta dan segera meminta penjelasan darinya.

 

HANA

(tegang)

Ada apa dengan Hana?

RETA

(menarik kerah Haru kuat-kuat)

Seharusnya aku yang tanya begitu sama kamu. Bukannya tadi kamu memintanya untuk bertemu di belakang sekolah?! Mana?! Mana, dia sekarang?!!

 

Haru mengernyitkan dahinya dengan kebingungan. Ridwan mencoba memisahkan mereka berdua.

 

ZENO

(mengklarifikasi)

Reta, sedari tadi Haru di ruang studio bersama kami. Dia nggak mungkin memiliki janji untuk bertemu dengan Hana disana.

 

Ucapan Zeno membuat Reta dan Kusniyah saling pandang.

 

KUSNIYAH

(sambil menghapus air matanya)

Tapi tadi Zuna bilang..

 

Belum sempat selesai berbicara, Haru merasakan bahwa Hana berada dalam bahaya. Apalagi kalau sampai berkaitan dengan Zuna dan tempat belakang sekolah. Membayangkannya saja sudah membuatnya begitu takut akan terjadi apa-apa pada adik tirinya itu. Haru segera berbalik pergi. Pak satpam dan teman-temannya pun segera mengikutinya juga. Mereka semua berlari kencang menuju halaman belakang sekolah. Hampir saja sampai disana, langkah Haru terhenti saat mendengar suara teriakan perempuan memanggil namanya.

 

HARU

(amarahnya memuncak)

Brengsek!

 

Kemudian Haru berlari lagi dan menemukan pemandangan yang menyakitkan. Hana yang sudah terbaring tidak berdaya di tanah sedang dipukuli oleh Rudi dan teman-temannya dengan balok kayu. Haru segera mendorong dan menghantam pelipis mereka semua. Ia menyuruh mereka untuk berhenti. Namun mereka tidak kunjung berhenti. Mereka hanya mengikuti perintah dari Rudi yang dengan santainya mengamati pemandangan itu. Terdengar suara peluit yang nyaring di telinga. Rudi terkejut saat melihat kedatangan pak satpam, Reta, Kusniyah, dan teman-teman band Haru. Teman-teman Rudi berhenti memukul dan segera berhamburan untuk kabur. Zeno dan ketiga temannya merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan siswa-siswa berandal itu. Mereka segera memukuli para remaja liar itu habis-habisan. Haru juga menghadang Rudi yang hendak kabur dan menghantamnya juga. Sementara Reta dan Kusniyah segera menolong Hana yang masih tidak sadarkan diri.

 

HARU

(menghantam tinjunya bertubi-tubi di wajah Rudi)

DASAR BRENGSEK! SUDAH GILA YA KAMU?!! Dia itu perempuan! NGGAK PUNYA HATI!!!!

 

Walaupun sudah berdarah-darah, Rudi tetap tergelak.

 

HARU

(semakin marah)

SAKIT LO!

 

Satu hantaman lagi yang pada akhirnya membuat Rudi oleng dan hilang kesadaran. Sebagian dari mereka ada yang kabur, namun ada juga yang sudah tertangkap dan memohon ampun. Haru tidak mempedulikan Rudi dan yang lainnya. Ia segera menghampiri Hana dan berusaha menyadarkannya. Saat melihat lebam-lebam di sekujur tubuhnya membuat hatinya semakin sakit.

 

RETA

(tegas)

Haru, kita harus membawanya ke rumah sakit!

 

Kusniyah masih menangis sesenggukkan. Pak satpam melihat kondisi Hana yang sudah tidak sadarkan diri. Beliau pun berinisiatif untuk membawa Hana ke rumah sakit dengan mobil milik sekolah. Pak satpam meminta Haru untuk tetap tinggal nantinya di sekolah untuk dimintai keterangan oleh pihak sekolah. Mau tidak mau kejadian ini juga harus diketahui oleh mereka. Karena kejadian ini berada di area sekolah, maka pihak sekolah juga masih harus bertanggungjawab dengan apa yang terjadi dengan para siswanya. Dengan segera Haru menggendong Hana sampai masuk ke dalam mobil. Dia mengikuti saran pak satpam untuk menjadi saksi atas penyiksaan yang terjadi pada Hana.

 

FADE OUT


Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar