Cuplikan Chapter ini
Udara pagi di dalam apartemen lantai dua puluh empat itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya Arkan berdiri di dekat jendela kaca besar yang langsung menghadap ke lanskap kota metropolis Secangkir kopi hitam yang mengepul di tangannya kini telah mendingin menyisakan lapisan tipis minyak di permukaannya Ia tidak berniat meminumnya Pikirannya jauh lebih pekat daripada cairan pahit di dalam cangkir tersebutArkan kamu sudah bangun Suara Samaira terdengar lembut dari balik pintu kamar ti