Cuplikan Chapter ini
Embun pagi masih menggantung di ujung-ujung daun gambir ketika suara tawa renyah memecah kesunyian di pondok kayu Pak Senen Di tempat itu Bara duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah mulai aus di beberapa bagian Di hadapannya terhidang segelas kopi hitam pekat yang mengepulkan uap tipis beraroma kuat khas biji kopi lokal yang disangrai sendiri oleh tangan-tangan tua yang berpengalamanBara mengangkat cangkir seng itu dengan hati-hati Kulit telapak tangannya kini telah berubah dipe